Sebetulnya tidak perlu terjadi persilangan jalan antara tasawuf dan fiqih, sebagaimana tidak mungkin terpisahkan antara ruh dan jasad, kecuali apabila hidup telah berakhir. Namun karena perilaku dan lisan kesufian acap kali tidak dengan cepat terselami maknanya oleh sadapan indrawi, maka diperlukan saling memahami tabiat masing-masing.
Seorang sufi pernah berkata, “Jika engkau menginginkan surga, belajarlah agama kepada para ahli fiqh. Tetapi bila engkau menghendaki Tuhan yang memiliki surga, datanglah kepada para sufi. Sebab untuk mendapatkan surga, jalannya adalah fiqh atau syariat. Sedangkan pintu menuju tuhan tidak ada lain kecuali tasawuf.”
Perkataan seorang tokoh sufi Abu Yazid Al-Busthami mungkin lebih terasa menyakitkan lagi, ketika ia ditanya, mengapa mendengarkan fatwa-fatwanya tidak membuat orang bosan, sedangkan terhadap uraian ahli fiqh justru sangat menjemukan.
Abu Yazid menjawab, “Karena sasaran ahli fiqh adalah otak manusia sementara pengajaran ahli tasawuf tertuju kedalam jiwa.
Sebetulnya jawaban tersebut bukan kecongkakan melebih tinggikan kaum sufi. Melainkan sekadar menerangkan perbedaan antara lingkup ilmu fiqh dan ilmu tasawuf yang tidak sama.Oleh sebab itu masyarakat tidak terperangah ketika seorang ahli fiqh Al ‘Iz bin Abdissalam menuduh Ibnu Arabi, tokoh tasawuf, sebagai
seorang zindiq, penyeleweng agama. Salah seorang muridnya menegur, “Adakah
seorang quthub, pemuka para wali, dizaman ini?”
Jawaban Al ‘Iz justru lebih mengagetkan. “Dia adalah Ibnu Arabi,” ucapannya tegas.
“Tapi tuan telah mencacinya?”dengus sang murid.
Karena aku harus menjaga kemurnian syariat dikalangan kaum awam.”Sahut Al ‘Iz tanpa ragu-ragu.
Murid-muridnya baru memahami keseolahan yang rancu ini apabila mereka secara sepintas lalu mendengarkan ucapan Ibnu Arabi tentang kiblat sembahyang yang mengarah ke Ka’bah di Makkah.
Dalam kitabnya Al-Futuhat, Ibnu Arabi menulis, “Umat Islam telah sepakat menghadapkan wajahnya ke Kiblat di Ka’bah sebagai salah satu syarat sahnya shalat. Andaikata keputusan ijma’ para ahli fiqh itu belum disetujui serempak, maka aku akan mengatakan bahwa hal itu bukan merupakan syarat, karena Allah SWT melalui ayat 115 surah Al-Baqarah telah berfirman :
“Maka kemanapun engkau memalingkan muka, disana engkau akan
berhadapan dengan Allah.”
“Ayat ini merupakan dasar hukum yang diturunkan di Makkah, dan tidak pernah dihapus keabsahan perintahnya,” demikian kilah Ibnu Arabi dalam kitabnya yang menggegerkan itu.
Jadi mengapa Ibnu Arabi berani berkata begitu? Apakah ia menentang kesahan Ka’bah sebagai kiblat dalam sembahyang? Padahal ketetapan ini sudah merupakan ketentuan syariat? Apakah shalat boleh dilakukan dengan menghadap kemana saja, meskipun tanpa aral?
Tidak. Pada hemat sejumlah besar kaum bestari, tidaklah sesesat itu pandangan Ibnu Arabi. Ia hanya sedang mengemukakan alangkah pentingnya peranan hati dan niat ketimbang hanya gerakan jasmani dan formalitas. Kalaupun seorang muslim menghadap ke Ka’bah namun tanpa hati dan niat menghadap kepada Allah, shalatnya hanya sah berdasarkan syariat, tetapi hakekatnya ia cuma menggerakkan tubuh belaka, dan tidak sedang beribadah ke hadirat-Nya. Hal itu bahkan memperjelas betapa tasawuf Ibnu Arabi begitu berpengaruh dan memberi jiwa terhadap fiqhnya.
Perjalanan kesufian Ibnu Arabi memang unik. Tidak hanya karena ia mendalami filsafat, merangkap sebagai ahli hakikat dan makrifat yang mampu mendirikan dinding akidah dalam dunia tasawuf, melainkan karena riwayat kelahiran mengundang tanda tanya dan keingintahuan yang mendalam.
Konon sesudah bertahun-tahun orang tuanya tidak dikurniai seorang anakpun, mereka lalu mendatangi Syech Abdul Qadir Al-Jailani, seorang wali agung yang digelari Muhyiddin (Penghidup agama), ketika sang wali sudah berusia lanjut menjelang hari-hari terakhir hidupnya. Syech Abdul Qadir Al-Jailani lantas menadahkan tangan kepada Allah, memohon agar keluarga itu dikabulkan keinginannya, dengan pesan agar bila kelak doanya terkabul dan lahirlah seorang anak laki-laki, hendaknya diberi nama julukan Muhyiddin pula.
Maka pada tanggal 17 Ramadhan tahun 506 Hijriyah, bayi yang diharapkan itu pun muncul dengan selamat di kota Mursia (Marceille) dalam wilayah Andalusia (Spanyol). Ia diberi nama Muhyiddin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah Alhatimi. Ditengah keindahan alam dan kesegaran udara Andalusia, si kecil itu tumbuh menjadi dewasa dalam masa keemasan ilmu pengetahuan dan agama. Ia banyak belajar kepada para ulama besar di segala bidang ilmu, baik ilmu-ilmu lahir maupun ilmu-ilmu batin. Ia menguasai ilmu Al-quran dan Tafsir. Ia pun mendalami ilmu hadist, fiqh dan semua cabangnya. Ia mengenal bahasa Arab hingga kelubuk-lubuknya. Dan ia hidup sebagai manusia biasa dengan segenap kekuatan dan kelemahannya.
Ibnu Arabi pernah terpukau oleh kenikmatan dunia. Ia pernah terpikat oleh kecantikan wanita. Ia pernah hanyut oleh keindahan alam. Sampai sempat melahirkan sajak-sajak asmara dan puisi-puisi pemujaan yang indah-indah mengenai kehiduapan jasmaniah yang semarak.
Di Hijaz ia jatuh cinta kepada putri gurunya sendiri. Amboi cantiknya perempuan itu hingga untuk sementara waktu mampu menggelisahkan jiwanya. Ia mengaku terus terang mengenai riwayat kasmarannya itu sebagaimana tertuang dalam salah satu puisinya. “Oh, betapa terpikat hatiku olehnya. Pikiran dan jiwaku seakan terbelenggu. Semua nama yang kusebut seolah-olah tertuju kepadanya. Seluruh negeri yang kudatangi seolah-olah kampungnya belaka yang kumasuki.”
Namun setapak demi setapak ia mulai meninggalkan bumi. Karena ternyata keindahan asama sama fatamorgananya dengan keindahan dunia. Ia mulai menatap kelangit, tanpa mengapungkan dirinya di awan gemawan. Sebab kakinya tetap berpijak dibumi, Cuma jangkauan angan-angannya yang menyibak cakrawala. Supaya apabila nanti jasadnya terkubur di balik himpitan tanah, pikiran-pikirannya
tetap mengalir bersama mega yang berarak sepanjang masa, mencurahkan hujan
kesegaran dan kerinduan kepada para pendamba kebersamaan dengan Tuhan.
“Pada malam yang putih itu aku terbang ke langit dan menjumpai bintang-bitang. Kukawini mereka satu persatu. Dan aku memperoleh kelezatan rohani sepanjang bermesra-mesra dengan mereka.”
Demikian Ibnu Arabi menulis kebahagiaanya manakala ia menjelajahi alam kebeningan yang tidak mengenal ujung dan tepi. Dari sana ia berkata, “Sungguh
telah dibukakan ilmu yang tinggi bagiku, pengetahuan yang mendalam tentang
rahasia yang tersembunyi selama ini, dan hikmah yang murni dalam kilauan bulan
yang ditaburi bintang gemintang.” (Sumber Buku “Rumah tuhan selalu
terbuka” Arman Arroisi)

Demi Allah, bukanlah suatu dosa apabila manusia berhak menikmati kehidupannya di alam dunia ini. Sebab kehidupan adalah kurnia Allah yang terbesar atas makhluk-Nya. Tidak mungkin bertebar kebajikan di muka bumi andaikata tidak ada kehidupan. Mustahil terdapat keshalihan dan pengabdian kalau tidak ada kehidupan. Semua hanya muara, kehidupanlah mata airnya.
Siang itu sebuah rumah berdinding serba putih di Iconium tengah diliputi kecemasan yang menanjak. Seorang guru agung sedang teregang-regang di pembaringan. Barangkali umurnya akan berakhir tidak lama lagi. Itulah yang menyebabkan hampir seisi ibukota negeri saljuk yang juga dikenal dengan Kauninyah tersebut dilanda kesedihan sangat menghunjam.
Konon menurut sahibul-hikayat, nasib manusia ditentukan oleh

Seakan batu-batu disepanjang jalan menuju tanah lapang itu ikut bersuka cita ketika pagi pertama bulan Syawal telah tiba. Dari cerobong asap dirumah-rumah penduduk Madinah mengepul suasana hari raya yang diberkati. Hari indah itu adalah milik semua. Tidak ada tangis yang boleh bergema kecuali air mata bahagia. Sebab semua umat Islam telah berhasil memenangkan perang dahsyat melawan hawa nafsu, dan sudah kembali kepada fitrah kesuciannya.
Sekonyong-konyong angkasa bagaikan terkoyak ketika ditengah musalla yang sempit dan pengap itu kedengaran suara tanpa kata, “hu, hu, hu.” Suara itu terus berdentam-dentam, “hu, hu, hu.” suasana pun kemudian berubah tidak lagi sakral, bahkan telah meluncur menjadi misteri kegaiban yang seolah takkan terungkap maknanya.
Tiada seorang manusia pun berwenang menilai bahwa dirinya sudah mencapai martabat kesucian. Namun tidak seorang pun terhalang untuk mencapai martabat kesucian. Hakekatnya, kesucian tidak dirasakan, melainkan terpancarkan, tanpa sang suci menyadari pancaran kesuciannya.
Terlalu pejal hati nabi Musa kalau tidak terperanjat oleh firman tuhan yang tidak dimengertinya itu. Mengapa Allah berkata begitu ? tidakkah ia amat kuasa dan tidak pernah sakit atau menderita ? ia mutlak sempurna, tiada awal dan tiada akhir. ia hidup kekal dan takkan pernah didatangi kematian. Tapi kenapa ia menegurnya dengan kalimat yang membingungkan itu ?