Tasawuf

Menjumpai bintang-bintang

31bintangSebetulnya tidak perlu terjadi persilangan jalan antara tasawuf dan fiqih, sebagaimana tidak mungkin terpisahkan antara ruh dan jasad, kecuali apabila hidup telah berakhir. Namun karena perilaku dan lisan kesufian acap kali tidak dengan cepat terselami maknanya oleh sadapan indrawi, maka diperlukan saling memahami tabiat masing-masing.

Seorang sufi pernah berkata, “Jika engkau menginginkan surga, belajarlah agama kepada para ahli fiqh. Tetapi bila engkau menghendaki Tuhan yang memiliki surga, datanglah kepada para sufi. Sebab untuk mendapatkan surga, jalannya adalah fiqh atau syariat. Sedangkan pintu menuju tuhan tidak ada lain kecuali tasawuf.”

Perkataan seorang tokoh sufi Abu Yazid Al-Busthami mungkin lebih terasa menyakitkan lagi, ketika ia ditanya, mengapa mendengarkan fatwa-fatwanya tidak membuat orang bosan, sedangkan terhadap uraian ahli fiqh justru sangat menjemukan.

Abu Yazid menjawab, “Karena sasaran ahli fiqh adalah otak manusia sementara pengajaran ahli tasawuf tertuju kedalam jiwa.

Sebetulnya jawaban tersebut bukan kecongkakan melebih tinggikan kaum sufi. Melainkan sekadar menerangkan perbedaan antara lingkup ilmu fiqh dan ilmu tasawuf yang tidak sama.Oleh sebab itu masyarakat tidak terperangah ketika seorang ahli fiqh Al ‘Iz bin Abdissalam menuduh Ibnu Arabi, tokoh tasawuf, sebagai
seorang zindiq, penyeleweng agama. Salah seorang muridnya menegur, “Adakah
seorang quthub, pemuka para wali, dizaman ini?”

Jawaban Al ‘Iz justru lebih mengagetkan. “Dia adalah Ibnu Arabi,” ucapannya tegas.

“Tapi tuan telah mencacinya?”dengus sang murid.

Karena aku harus menjaga kemurnian syariat dikalangan kaum awam.”Sahut Al ‘Iz tanpa ragu-ragu.

Murid-muridnya baru memahami keseolahan yang rancu ini apabila mereka secara sepintas lalu mendengarkan ucapan Ibnu Arabi tentang kiblat sembahyang yang mengarah ke Ka’bah di Makkah.

Dalam kitabnya Al-Futuhat, Ibnu Arabi menulis, “Umat Islam telah sepakat menghadapkan wajahnya ke Kiblat di Ka’bah sebagai salah satu syarat sahnya shalat. Andaikata keputusan ijma’ para ahli fiqh itu belum disetujui serempak, maka aku akan mengatakan bahwa hal itu bukan merupakan syarat, karena Allah SWT melalui ayat 115 surah Al-Baqarah telah berfirman :

“Maka kemanapun engkau memalingkan muka, disana engkau akan
berhadapan dengan Allah.”

“Ayat ini merupakan dasar hukum yang diturunkan di Makkah, dan tidak pernah dihapus keabsahan perintahnya,” demikian kilah Ibnu Arabi dalam kitabnya yang menggegerkan itu.

Jadi mengapa Ibnu Arabi berani berkata begitu? Apakah ia menentang kesahan Ka’bah sebagai kiblat dalam sembahyang? Padahal ketetapan ini sudah merupakan ketentuan syariat? Apakah shalat boleh dilakukan dengan menghadap kemana saja, meskipun tanpa aral?

Tidak. Pada hemat sejumlah besar kaum bestari, tidaklah sesesat itu pandangan Ibnu Arabi. Ia hanya sedang mengemukakan alangkah pentingnya peranan hati dan niat ketimbang hanya gerakan jasmani dan formalitas. Kalaupun seorang muslim menghadap ke Ka’bah namun tanpa hati dan niat menghadap kepada Allah, shalatnya hanya sah berdasarkan syariat, tetapi hakekatnya ia cuma menggerakkan tubuh belaka, dan tidak sedang beribadah ke hadirat-Nya. Hal itu bahkan memperjelas betapa tasawuf Ibnu Arabi begitu berpengaruh dan memberi jiwa terhadap fiqhnya.

Perjalanan kesufian Ibnu Arabi memang unik. Tidak hanya karena ia mendalami filsafat, merangkap sebagai ahli hakikat dan makrifat yang mampu mendirikan dinding akidah dalam dunia tasawuf, melainkan karena riwayat kelahiran mengundang tanda tanya dan keingintahuan yang mendalam.

Konon sesudah bertahun-tahun orang tuanya tidak dikurniai seorang anakpun, mereka lalu mendatangi Syech Abdul Qadir Al-Jailani, seorang wali agung yang digelari Muhyiddin (Penghidup agama), ketika sang wali sudah berusia lanjut menjelang hari-hari terakhir hidupnya. Syech Abdul Qadir Al-Jailani lantas menadahkan tangan kepada Allah, memohon agar keluarga itu dikabulkan keinginannya, dengan pesan agar bila kelak doanya terkabul dan lahirlah seorang anak laki-laki, hendaknya diberi nama julukan Muhyiddin pula.

Maka pada tanggal 17 Ramadhan tahun 506 Hijriyah, bayi yang diharapkan itu pun muncul dengan selamat di kota Mursia (Marceille) dalam wilayah Andalusia (Spanyol). Ia diberi nama Muhyiddin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah Alhatimi. Ditengah keindahan alam dan kesegaran udara Andalusia, si kecil itu tumbuh menjadi dewasa dalam masa keemasan ilmu pengetahuan dan agama. Ia banyak belajar kepada para ulama besar di segala bidang ilmu, baik ilmu-ilmu lahir maupun ilmu-ilmu batin. Ia menguasai ilmu Al-quran dan Tafsir. Ia pun mendalami ilmu hadist, fiqh dan semua cabangnya. Ia mengenal bahasa Arab hingga kelubuk-lubuknya. Dan ia hidup sebagai manusia biasa dengan segenap kekuatan dan kelemahannya.

Ibnu Arabi pernah terpukau oleh kenikmatan dunia. Ia pernah terpikat oleh kecantikan wanita. Ia pernah hanyut oleh keindahan alam. Sampai sempat melahirkan sajak-sajak asmara dan puisi-puisi pemujaan yang indah-indah mengenai kehiduapan jasmaniah yang semarak.

Di Hijaz ia jatuh cinta kepada putri gurunya sendiri. Amboi cantiknya perempuan itu hingga untuk sementara waktu mampu menggelisahkan jiwanya. Ia mengaku terus terang mengenai riwayat kasmarannya itu sebagaimana tertuang dalam salah satu puisinya. “Oh, betapa terpikat hatiku olehnya. Pikiran dan jiwaku seakan terbelenggu. Semua nama yang kusebut seolah-olah tertuju kepadanya. Seluruh negeri yang kudatangi seolah-olah kampungnya belaka yang kumasuki.”

Namun setapak demi setapak ia mulai meninggalkan bumi. Karena ternyata keindahan asama sama fatamorgananya dengan keindahan dunia. Ia mulai menatap kelangit, tanpa mengapungkan dirinya di awan gemawan. Sebab kakinya tetap berpijak dibumi, Cuma jangkauan angan-angannya yang menyibak cakrawala. Supaya apabila nanti jasadnya terkubur di balik himpitan tanah, pikiran-pikirannya
tetap mengalir bersama mega yang berarak sepanjang masa, mencurahkan hujan
kesegaran dan kerinduan kepada para pendamba kebersamaan dengan Tuhan.

“Pada malam yang putih itu aku terbang ke langit dan menjumpai bintang-bitang. Kukawini mereka satu persatu. Dan aku memperoleh kelezatan rohani sepanjang bermesra-mesra dengan mereka.”

Demikian Ibnu Arabi menulis kebahagiaanya manakala ia menjelajahi alam kebeningan yang tidak mengenal ujung dan tepi. Dari sana ia berkata, “Sungguh
telah dibukakan ilmu yang tinggi bagiku, pengetahuan yang mendalam tentang
rahasia yang tersembunyi selama ini, dan hikmah yang murni dalam kilauan bulan
yang ditaburi bintang gemintang.” (Sumber Buku “Rumah tuhan selalu
terbuka” Arman Arroisi)

Tasawuf

Memandang Ke Dalam

79anggaDemi Allah, bukanlah suatu dosa apabila manusia berhak menikmati kehidupannya di alam dunia ini. Sebab kehidupan adalah kurnia Allah yang terbesar atas makhluk-Nya. Tidak mungkin bertebar kebajikan di muka bumi andaikata tidak ada kehidupan. Mustahil terdapat keshalihan dan pengabdian kalau tidak ada kehidupan. Semua hanya muara, kehidupanlah mata airnya.

Namun untuk menikmati kematian, bukankah mencerminkan kemuspraan yang putus asa? Betul, bagi mereka yang tidak menghayati apakah sebenarnya makna kehidupan dan kematian, yakni orang-orang yang cuma tahu bahwa mereka hidup dan mempunyai hak untuk menikmatinya. Orang-orang yang enggan memandang kedalam, bahwa kematian merupakan kurnia tuhan pula, bukan malapetaka
atau kutukan. Bahwa kematian adalah hak setiap makhluk hidup, lantaran pada
hakikatnya, kematian justru awal kebangkitan dari kehidupan maya menuju
kehidupan baka.

Ada banyak cara untuk mewarnai kehidupan, tapi hanya ada satu cara untuk memperoleh kematian, yaitu melalui takdir atau keputusan tuhan. Buat orang-orang shalih, kapan, bagaimana dan dimana kematian akan datang menjemputnya tidaklah menjadi beban kerisauan. Untuk mereka, kematian adalah pintu gerbang dalam pengembaraan menemui tuhan. Hingga yang mereka dambakan hanyalah agar kehidupan berakhir dengan khusnul khatimah, penghabisan yang baik, mati dalam keadaan Islam dan beriman. Boleh mereka mati diatas tahta kekuasaan. Boleh juga mereka mati dalam harta yang melimpah, yang penting khusnul khatimah.

“Siapakah yang menikamku?” Itulah pertanyaan Umar bin Khattab ketika sebilah pisau dihunjamkan lima kali kepunggungnya pada saat ia memimpin shalat shubuh, dalam pagi yang jernih di kota Madinah.

Para sahabat yang memapahnya kerumah menjawab sedih,

Wajah Umar mendadak bersinar cerah dan dengan gembira ia berkata, “Terpujilah nama Allah, bahwa aku tidak dibunuh oleh orang Islam.”

Subhanallah. Alangkah mulianya hati yang terpatri dilubuk dada manusia besar itu. Yang dalam kesakitan dan sengal-sengal menjelang ajalnnya tidak menyesali kematian yang bakal menimpanya. Sebab Umar yakin, kematian dalam keadaan apa pun sudah merupakan ketetapan takdir Allah semata-mata. Ia bersuka cita karena pembunuhnya adalah Firuz, seorang budak berkebangsaan Persia yang beragama Majusi. Dan pembunuhan itu dilakukan atas dirinya karena Umar membela kebenaran dan keadilah yang menjadi pandangan hidupnya.

Sebab Umar bin Khattab selaku khalifah tidak segan-segan membela hak kaum lemah, namun juga tidak malu-malu membela hak para hartawan.
Seseorang tidak dibelanya dengan melihat siapakah dia, melainkan dengan
memperhatikan secara jujur dan saksama, apakah ia patut dibela atau tidak
berdasarkan neraca keadilan yang dianutnya.

Firuz, budak persia itu pernah menghadap kepadanya, mengadukan perselisihan dengan tuannya, mengenai pajak yang ditetapkan Mughirah bin Syu’bah, sang majikan. Ia menganggap pajak itu terlalu berat menindihnya.

“Pekerjaan apa yang kamu lakukan?” tanya Umar ketika itu.

Saya bekerja merangkap-rangkap, sebagai tukang kayu, tukang cat dan pandai besi. Jawab Firuz.

Umar lalu menghitung-hitung antara pajak dan pendapatan. Setelah ditimbangnya dengan cermat, Umar lantas menjawab, ” Jumlah pajak yang ditentukan majikanmu itu tidak besar dibandingkan macam-macam pekerjaan yang kamu lakukan.”

Keputusan khalifah ini tidak memuaskan Firuz. Ia marah dan sakit hati, serta menyimpan dendam kepada Umar. Begitulah akhirnya. Pada waktu saf-saf para makmum sudah diatur rapi, dan Umar berdiri menghadap Kiblat untuk memulai sembahyang Shubuh, Firuz menyerobot masuk dari halaman masjid sambil
menghunus pisau. Tanpa sempat dihalang-halangi, budak Persia itu langsung menikam Umar berulang kali sampai tubuh yang tinggi besar itu terjerembab ke lantai dengan darah menyemprot keluar dari luka-lukanya yang menganga.

Umar tidak melaknat pembunuhnya. Dan Umar tidak mengutuk para sahabatnya yang tidak mampu mencegah pembunuhan itu. Sebab Umar senantiasa memandang kedalam pada waktu menghadapi semua perkara. Ia tidak memandang keluar. Ia tahu nyaris segala yang berada diluar adalah semu. Takkan mungkin diperoleh kebenaran apabila pandangan manusia hanya berkisar diluar belaka, dan tidak bersedia menjenguk kedalam diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, Umar tidak merasa keberatan untuk meninggalkan dunia yang konon indah ini. Ia tahu, begitulah selamanya kahir perjalanan manusia.

“Hitung-hitunglah dirimu, sebelum engkau diperhitungkan.” Demikian
ucap Umar bin Khattab dalam setiap kesempatan.

Muhasabah, saling menghitung diri sendiri, adalah amal terakhir pada manusia yang dapat mencegah dari saling menyalahkan dan kemudian saling membinasakan.

Kelanjutan dari muhasabah adalah kesadaran terhadap kesalahan yang telah dilakukan. Sejumlah orang sufi mengiringi muhasabah ini denganĀ  mu’aqabah,
menghukum diri sendiri.

Rabiah Al-Adawiyah pernah terlupa tidak mengerjakan shalat sunah Fajar yang sudah biasa dilakukannya. Ia begitu menyesal lalu menjalankan mu’aqabah. Ia membeli seorang hamba sahaya dengan hampir seluruh harta miliknya, lalu memerdekakannya. Dzun nun, seorang penganut dan pelopor tasawuf lainnya, memcambuki tubuhnya sendiri kalau ia menemukan kesalahan yang telah diperbuatnya. Apakah hal ini tidak termasuk penyiksaan diri yang dilarang oleh
syariat?

Menjawab kebimbingan itu Imam Al-Ghazali menjelaskan, “Kalau engkau saban hari menjatuhkan hukuman kepada pembantumu, anggota keluargamu atau anak-anakmu, karena perbuatan mereka yang kau anggap salah, mengapa engkau
alpa dan tidak mau menjatuhkan hukuman serupa atas dirimu sendiri jika engkau
merasa bersalah?”

Yang dimaksud penyiksaan diri dan oleh syariat tidak dibenarkan, adalah apabila penghukuman itu dilakukan bukan untuk membalas kesalahan, melainkan sebagai ungkapan kebaktian ritual. Sebab Tuhan yang maha rahman tidak menghendaki kepasrahan hamba-hamba-Nya sampai membahayakan keselamatan dan kesejahteraan mereka. Kepasrahaan yang benar menurut ajaran Islam ialah kebaktian kepada Tuhan yang bisa menyebarkan kemaslahatan dan
kebajikan kepada diri sendiri serta kepada sesama makhluk.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin diceritakan betapa Rasulullah SAW pernah melarang para sahabatnya melakukan puasa terus menerus, Shalat tanpa berhenti, dan melakukan salibat, yakni tidak mau kawin seumur hidup, dengan alasan agar dapat beribadah lebih penuh kepada Tuhan.

Rasulullah menegaskan, “Aku adalah manusia yang sangat bertakwa kepada Allah. Tetapi aku berpuasa dan aku berbuka. Aku bersembahyang dan aku tidur. Serta aku pun mempunyai istri.” (Sumber Buku “Rumah tuhan selalu terbuka” Arman Arroisi)

Tasawuf

Warisan Sufi

16rumi1Siang itu sebuah rumah berdinding serba putih di Iconium tengah diliputi kecemasan yang menanjak. Seorang guru agung sedang teregang-regang di pembaringan. Barangkali umurnya akan berakhir tidak lama lagi. Itulah yang menyebabkan hampir seisi ibukota negeri saljuk yang juga dikenal dengan Kauninyah tersebut dilanda kesedihan sangat menghunjam.

Seorang darwis pemuka sufi bernama Sadruddin datang menjenguk dan berdoa, “Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu.”

Jalaluddin Ar-Rumi yang sedang menghadapi saat-saat penghabisannya itu menjawab tenang,” Ah sahabat. Seandainya engkau tuntas beriman dan berlaku terpuji, kematian adalah kegembiraan.”

Dan demikianlah yang terjadi. Pada waktu Azan Maghrib menjelang berkumandang dimenara-menara masjid yang tinggi menjulang, Jalalauddin Ar-Rumi mengatupkan mata selama-lamanya, dengan sunggingan senyum abadi dalam bibirnya. Sore itu adalah 5 Jumadil Akhir tahun 672 Hijriyah.

Telah wafat seorang sufi, penyair dan wali budiman. Dukana hitam seolah membianglala disekujur negeri. Tiada ada yang matanya kering petang itu. Semua menangisi kepergiannya. Semua merasa kehilangan, seperti gelap kehilangan cahaya.

Ketika jenasahnya diberangkatkan menuju kepemakaman, bahkan orang-orang Nasrani dan Yahudi ikut menangisi kematiannya. Umat Islam heran dan bertanya, “Apa peduli tuan-tuan terhadap belasungkawa hari ini ? Bukankah yang
meninggal itu seorang muslim?”

Mereka menjawab, “Berkat Ar-Rumi kami meyakini kebenaran para nabi di masa lampau. Dalam diri Ar-Rumi kami menghayati sikap hidup wali sejati.Siapakah sebetulnya orang mulia itu ? Nama lengkapnya Jalaluddin Muhammad Ar-Rumi, dilahirkan di Balkha, Afganistan, 68 tahun sebelum wafatnya. Ayahnya bersilsilah dari Abu Bakar As-Shiddiq. Ibunya bernasab Ali bin Abi Thalib.

Dalam usia 12 tahun, keluarganya secara diam-diam meninggalkan negeri tumpah darahnya, sampai kemudian bermukim di Zaranda sesudah selama empat tahun menjadi penduduk Arzanjan (Armenia). Di kota Zaranda, Ar-Rumi menikah dengan seorang gadis shalihah bernama Jauhar Katun.

Karena ayahnya, Bahauddin Wakad, adalah sorang ulama besar yang kemashurannya kondang kemana-mana, penguasa negeri Rum (Turki Saljuk)
mengundangnya agar tinggal di Iconium (Kauniyah) untuk menjadi penasihat Sultan
Alauddin Kaiqibad.

Ayah Ar-Rumi wafat dua tahun kemudian. Dan sejak itu sang putra itulah yang menggantikannya menjadi penasihat serta guru agung, tidak saja bagi para penguasa, melainkan juga buat segenap masyarakat dari segala lapisan.

Dalam tempo tidak terlalu lama, murid Ar-Rumi jauh melebihi para pengikut ayahnya. Yang belajar kepada Ar-Rumi membludak sampai 10.000 orang. Semuanya patuh dan taat, selain kagum dan hormat kepadanya.

Karena itu mereka begitu terperanjat dan bagaikan tertimpa gunung runtuh pada waktu seorang lelaki tak dikenal yang kemudian diketahui bernama Syamsuddin At-Tabrizi, menyeruak dari tengah-tengah mereka dan bertanya, “Terangkanlah kepada saya, apakah yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu batin?

Jalaluddin Ar-Rumi terbelalak. Selama ini telah menguasai segala bidang ilmu dan pengetahuan, dari ilmu-ilmu hadits, tafsir sampai filsafat dan ilmu kalam. Namun pertanyaan yang sederhana tersebut tidak dapat dijawabnya dengan gamblang, karena ia belum mendalami ilmu tasawuf.

Hingga sejak saat itu ia berhenti jadi guru dan mengangkat Syamsuddin sebagai gurunya. Ar-Rumi mengundangnya tinggal dirumahnya selama enam belas bulan. Bahkan pernah Ar-Rumi mengurung dirinya dalam kamar hanya berdua dengan Syamsuddin hingga empat puluh hari empat puluh malam. Tanpa seorang pun diijinkan masuk.

Sultan walad, salah satu putra Ar-Rumi pernah mengatakan,”Sungguh ayahku adalah seorang guru agung yang tiba-tiba menjadi murid kecil. Tiap hari, guru agung itu menimba ilmu dari murid kecilnya, meskipun ia sendiri seorang alim dan zuhud. Sebab dalam diri murid kecilnya, guru agung itu menjumpai lautan ilmu yang tiada taranya.

Akibat perubahan sikap itu, murid-murid dan para sahabat karibnya menyimpan sakit hati dan dengki kepada Syamsuddin At-Tabrizi. Keresahan ini terasakan oleh Syamsuddin. Hingga pada suatu hari, ia menyelinap keluar dan pergi dari Iconium tanpa diketahui kemana raibnya.

Ar-Rumi seperti layang-layang tersambar beliung, meliuk-liuk dalam kesedihan. Sesudah tempat mukim Syamsuddin diketahui, yakni di Damaskus (Damsyik), ia mengirimkan sebuah surat melalui anaknya, Sultan Walad, yang menjadi salah satu karya terindah dari ribuan bait puisi mistiknya. Syamsuddin kembali ke Iconium. Pertemuan ini membuahkan Maqalat Syamsi Tabriz (wejangan-wejangan Syamsi Tabriz), sebuah kumpulan pelajaran sang murid kecil dalam bentuk dialog sufi.

Setelah Syamsuddin dengan alasan seperti sebelumnya, meninggalkan Ar-Rumi lagi, lahirlah Divan-I Syamsi Tabriz (dalam bahasa Persia) berisi 2500 lirik pujaan yang menceritakan hubungan spiritual antara guru dengan murid.

Ar-Rumi juga menghadilkan karya lain yang paling utama, yaitu Mastnawi Jalaludin Ar-Rumi, berisi 25.700 kuplet berirama dalam enam jilid yang dikerjakannya selama 15 tahun. Karya ini memuat ajaran-ajaran pokok tasawufnya yang diungkapkan dalam bentuk puitis. Mastnawi ibarat sungai dan dalam, yang mengalir dengan tenang, menyibak dataran yang menghijau subur, berkelok-berkelok diantara lembah dan ngarai, menuju samudra luas tidak bertepi.

Karya terkenal lainnya Rubaiyyat berisi 1600 bait berbentuk sajak empat baris, serta martubat yang memuat surat-suarat kepada sejumlah pengikut setia dan sahabat-sahabatnya.

Peninggalan Jalaluddin Ar-Rumi yang sampai sekarang masih tersebat di Mesir, Iran
Suriah, India dan beberapa negeri lainnya adalah tarikat persaudaraan mistik, Al-Maulawiyah. Tarikat ini menyertakan sama (musik dan tari) dalam upacara spiritualnya. Para penganut Al-Maulawiyah menari berputar-putar bagaikan gasing untuk menopang kelezatan zikir mereka sehingga didunia Barat terkenal dengan sebutan whirling dervishes (darwis-darwis yang berputar-putar), yang dilakukan sambil mendengungkan suluk-suluk puitis ciptaan Ar-Rumi.

Bila kaulihat kerandaku berlalu, jangan ucapkan, “Kita telah berpisah, kita telah berpisah.” Saat itu adalah saatku bersatu dan bertatap mata. Bila jasadku kaubaringkan di liang lahat, jangan katakan, “Selamat jalan, selamat jalan.Kuburan adalah babut suci yang menyatukan aku dengan surgaku. ”

Itulah ucapan Jalaluddin Muhammad Ar-Rumi ketika mengelu-elukan jemputan malaikat Izrail, untuk mengantarkannya ke hadirat Al-Haq, Sang kebenarannya, yang jalannya kesana telah dirambah dan didaki sepanjang hidupnya. (Sumber Buku “Rumah tuhan selalu terbuka”; Arman Arroisi)

Tasawuf

Juru Selamat

75nabiKonon menurut sahibul-hikayat, nasib manusia ditentukan oleh
tabiatnya sendiri. Ada pendapat, tabiat seseorang itu dipengaruhi oleh tanda zodiak berdasarkan waktu kelahirannya. Maka seringkali Tuhan bagi sejumlah orang tertentu, perlu ditemani tukang ramal dalam mengatur peruntungan manusia. Seakan para penujum itu merupakan penjelmaan tuhan di muka bumi. Tebakannya ditunggu-tunggu dengan gemetar, disambut dengan suka cita atau kadang-kadang malah ketakutan luar biasa, tergantung bagaimana isinya. Ah. Dengarkanlah mereka bicara. tentang betapa matahari, bulan dan planet, ternyata turut mengambil bagian dalam memberikan kehidupan semesta, terhadap manusia, binatang dan tetumbuhan. Arkian, itulah yang disebut Zat kehidupan. Zat ini lalu bercampur dengan Zat Ether yang tersebar disegenap penjuru. Dari Zat Ether akan timbul pergerakan atau aliran udara yang menyelusup dari satu benda ke benda lainnya. Karena itu, banyak orang berpendapat bahwa Ether adalah gelombang getaran hidup yang tidak dapat dielakkan oleh manusia. Kita dikuasai oleh Ether dimana-mana, tapi kita punya kuasa untuk menolak atau menerimanya,dengan mengatur tabiat dan jalan kehidupan, sesuai dengan catatan Zodiak masing-masing.

Sungguh, Apabila yang dimaksudkan dengan peruntungan adalah ketentuan takdir, maka tidak ada yang berkuasa menentukan takdir kecuali Allah SWT.
“Di langitlah seluruh rezekimu, serta semua yang dijanjikan untukmu.”(Adz-Dzariyat :22)

Dalam perilaku zuhudnya, para sufi bukanlah putus asa dan menyerah kepada ikhtiar. Mereka hanya pasrah kepada takdir. Sebab tidak sebuah kekuatan pun mampu mengubah ketentuan takdir, sepanjang takdir adalah keputusan akhir dari sang Maha Kuasa.

Namun dalam ikhtiar, memilih nasib atau bagian ditempat keberuntungan atau duka nestapa, adalah mutlak berada ditangan kita sendiri.

Allah telah menurunkan kurnia yang memberikan kepada kita
segala kelengkapan dalam merajut nasib di dunia dan diakhirat. terserah kepada
kita, apakah kelengkapan itu akan kita manfaatkan bagi keselamatan diri,
ataukah justru untuk menjerumuskan kita ke dalam malapetaka.

Dengan tegas hal itu dikemukakan oleh Allah melalui salah satu ayat-Nya :

“Dan tuntutlah dari rezeki yang diberikan Allah kepadamu kesejahteraan hidup dirumah Akhirat. Namun jangan lalaikan bagianmu di
dunia.” (Al-Qashash:77)

Jadi kita bisa menetapkan sejumlah mana bagian kita di dunia dan sebesar apa singgasana kita kelak di Hari pembalasan. Kita dapat mengusahakannya tidak dengan mencocokkan hari dengan suratan bintang-bintang zodiak, melainkan dengan ikhtiar dan doa. Peruntungan kita tidak tertulis di planet, matahari atau bulan, tetapi di medan juang dengan restu Lauh Mahfudz (suratan Tuhan) dalam kuasa Allah yang maha kaya.

Bukankah tentang hal ini Allah telah menyatakan:

“Barangsiapa melakukan kebajikan, baik ia lelaki atau perempuan dan ia orang beriman, akan kami berikan penghidupan yang sejahtera baginya, dan kami balas pula dengan ganjaran lebih besar daripada yang dilakukannya.” (An-Nahl:97)

Artinya, jatah kesukaan atau himpitan kesedihan yang menimpa manusia sebetulnya berasal dari ulah manusia sendiri. Tuhan tidak mengotak-kotakkan hamba-Nya, sebagian untuk penghuni neraka dan sebagian menjadi penghuni surga. Tuhan hanya memberi batas, mana jalan ke surga dan mana jurang keneraka. Manusia memiliki ikhtiar buat mengambil keputusan. Untuk itu tidak ada Juru Selamat, selama yang dimaksudkan Juru Selamat adalah orang lain, termasuk para utusan tuhan. Sebab dalam ajaran Islam, Juru Selamat yang bisa menolong manusia cuma amal salih masing-masing.

Pernah Nabi SAW didatangi Abdullah, anak Abdullah bin Ubay, pemimpin kaum munafik Madinah. Dengan wajah sedih, sahabat yang selalu berlawanan dengan ayahnya sendiri itu menceritakan bahwa Abdullah bin Ubay sedang sakit keras dan menginginkan Rasulullah supaya bersedia menjenguknya.

Nabi tidak keberatan. Ia datang menengok ke rumah biang kerok para penghianat yang licik itu. Tiba-tiba, melihat nabi berada didekatnya, Abdullah bin Ubay memohon-mohon agar Nabi melepas jubahnya dan menyelimutkan ketubuhnya yang tengah meregang-regang menghadapi maut itu. Umar bin Khattab yang hadir mengiringi Nabi memberi isyarat agar ia menolak, tapi Nabi tidak berniat begitu. Ia segera melukar jubahnya dan menutupkannya kebadan Abdullah bin Ubay, sehingga keinginan Abdullah bin Ubay terlaksana, meninggal dunia dengan berselimutkan jubah Nabi.

Tentu saja Umar bin Khattab sangat penasaran. Di luar, sepulang mereka dari rumah Abdullah bin Ubay, Umar menegur nabi :

“Wahai Rasulullah. Saya tidak mengerti akan sikapmu. Bukankah Abdullah bin Ubay itu musuh besarmu dan musuh besar umat Islam ?”

Nabi mengangguk.”Ya, betul.”

“Tapi alangkah beruntungnya Abdullah bin Ubay, dapat mati
dengan berselimutkan jubahmu. Padahal kami para sahabatmu yang setia belum
tentu mendapatkan nasib sebaik itu,” sergah Umar selanjutnya.

Nabi tersenyum dan manjawab :

“Sahabatku Umar. Engkau jangan bersempit pikiran. Memang Abdullah bin Ubay meninggal dunia dengan berkerudung jubahku. Namun ketahuilah Umar, Abdullah bin Ubay tidak akan selamat karena memakai jubahku. Sebab jubahku tidak akan menyelamatkan siapa-siapa. Manusia hanya akan selamat dengan
iman dan amal shalihnya.”

Lantas, apa yang telah dikerjakan oleh para penganut tasawuf? Apakah mereka telah beramal shalih, disamping beriman? Dengan jalan apa mereka bakal mendapatkan perbaikan nasib didunia, kalau yang mereka lakukan justru tidak melakukan apa-apa?

Dengan logika kaum awam, sikap hidup mereka memang rasanya
sulit diseyogayakan. Bayangkan. Mereka cuma melakukan safar, perjalan ritual,
dan menyepi, tanpa upaya merebut rezeki yang makin susah dicari. Itulah pikiran kasar kita. Akan tetapi apabila kita mau merenungkannya sejenak, setidaknya kita akan menghargai keputusan mereka, yaitu jika kita memakai ukuran-ukuran mereka dalam memandang kehidupan dengan segala normanya.

Karena mereka tidak ikut-ikutan berebut rezeki, berarti
telah beramal salih, lantaran memberikan kesempatan lebih luas bagi orang lain
untuk mendapatkan rezeki yang sebenarnya merupakan bagian mereka.

Para penempuh jalan sufi itu memang lebih banyak melakukan amal batiniyah, lebih banyak berzikir dan tafakur, namun pada hakekatnya mereka telah mengerjakan yang lebih besar dari kita, yaitu menyibak tabir langit, agar rahmat tuhan melimpahi bumi. Untuk siapakah rahmat tuhan itu ? apakah cuma untuk mereka?

Tidak. Rahmat Tuhan itu untuk kita semua. Sebab menurut jalan sufi, berdoa pun tidak patut hanya untuk diri sendiri. (Sumber Buku “Rumah tuhan selalu terbuka” Arman Arroisi)

Tasawuf

Menjemput Firman Kudus

66alquran
Boleh saja seorang pendurhaka tidak tergetar ketika dosa telah dilakukan sebab bagi pecinta maksiat, dosa tidak lagi merupakan aib, malah sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Mereka menenggak dosa seperti melahap air sejuk ditengah padang pasir. Tidak ada sentakan ruhani, tidak ada kutukan nurani. Dosa telah berkembang sebagai penghias kehidupan, yang menyemarak kehidupan. Sehingga dosa dikerudungi piala kristal berwarna-warni dan gemerlapan. Orang pun merasa terhormat berakrab-berakrab dengan dosa. Karena keadaan telah terbalik begitu dahsyat. Tempat pahala berada di lingkungan kumuh dan pengap, sementara tempat dosa bertengger di istana kehormatan, dikawal pendekar-pendekar kebal yang rela bersekutu dengan dosa cuma untuk kenikmatan sepenggal.

Padahal dosa tidak pernah berdiri sendiri. Ia bagaikan pilar yang hanya bisa tegar apabila ditopang oleh batu-batu dasar. Sekali seseorang melakukan dosa, berarti beberapa kesesatan telah dilalui. Seperti air yang meluber dari bejana. Itulah percikan dosa. Karenanya jangankan kerikil, gunung pun tidak seberat dosa apabila telah berakar di hati manusia.

Namun alangkah pengasihnya sang maha pencipta. Ia menganggap dosa hanyalah jelaga dari endapan syahwat manusia, sehingga Ia tidak melaknat pelaku maksiat. Ia bahkan mengajak mereka agar mau kembali ke jalan-Nya, agar menyatu kembali dalam ridha-Nya. Untuk itu Ia menyediakan pintu selebar-lebarnya, yakni gerbang taubat.

Melangkah kedalamnya, akan membawa kita ketengah alam yang digelimangi kedamaian, dipenuhi ketentraman. Tidak ada kawah bergolak, tidak ada goncangan mendesak-desak. Dalam suasana bertaubat hati berubah menjadi telaga paling bening, melebihi kebeningan langit di pagi cerah. Itulah suasana tatkala hati telah dekat dengan Tuhan melalui takarrub kepada-Nya.

Untuk itu para shufi memulai takarrubnya dengan bersimpuh di kaki Tuhan seraya mengucap : “Tuhanku, Engkaulah yang kutuju. Keridhaanmu yang kucari. Berikan aku cinta kasih dan perhatianmu.”

Kemudian para shufi itu akan duduk tasyahud diruang sepi, dengan kepala menunduk ke sebelah kiri, Ruang itu tidak luas, namun bersih, wangi dan senyap. Inilah yang disebut duduk tarekat.

Dalam kesemerbakan tafakur itu, mereka lalu membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW dalam upaya membuhulkan pertalian yang erat dan tulus dengan beliau. Pertalian tersebut dinamakan Rabithatul Mursyid. Shalawat murni yang dibaca adalah :

“Salam sejahtera bagimu wahai nabi Allah, semoga rahmat dan keberkatan Allah melimpah atasmu.”

Pada tingkat takarrub ini terasakan seolah-olah nabi Muhammad hadir didepan mereka dan bersalaman dengan mesra.

Peringkat berikutnya adalah membaca shalawat atas diri Nabi Muhammad SAW, untuk para keluarganya, dan bagi arwah orang salih seluruhnya. Kemudian disusul membaca istighfar tujuh kali. lafadznya cukup dengan ucapan “astaghfirullah”. Adapun jumlah tujuh kali itu diniatkan untuk meminta ampun dari dosa-dosa yang dilakukan oleh mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki dan syahwat. Selain itu juga agar dosa batin yang ditimbulkan oleh kelemahan hati, kelemahan ruh, kelemahan nafsu dan kelemahan sekujur badan, dihapuskan seluruhnya oleh Allah SWT.

Sesudah terasa lapang dan ringan didalam jiwa karena bacaan Istighfar tadi, Mereka lantas membaca Fatihah sekali, Lalu surah Al-Ikhlas tiga kali didahului dengan permohonan supaya pahalanya ditujukan kepada nabi Muhammad SAW, kepada seorang atau beberapa wali tertentu dan bagi diri sendiri serta segenap kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

Ketika itu, sesudah melalui fatihah hubungan dengan alam nyata dan alam ruh seakan terjalin dengan akrab, rahasia langit dan bumi pun mulai tersingkap menjadi jernih. Kerak-kerak bumi dan noda-noda langit yang menyekat pandangan batin terkelupas sejengkal demi sejengkal. Sukma pun mampu menembus matra ruang dan dimensi waktu. Rasa dan karsa menumpu ke arah yang satu, sementara ruhani menjelajah makin jauh, merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan duniawi dan liku-liku kehidupan ukhrawi.

Begitu tegarnya ruhani melayang, meninggalkan dunia dibelakang. Setelah dunia tidak tampak lagi, sirna dalam ketiadaan, ruhani bagaikan berdiri disimpang jalan. Apakah ke Surga ataukah ke Neraka ?

Dalam pandangan ruhani, Surga berada disebelah kanan dan Neraka di sebelah kiri. Hendak menyeberang ke kanan, rasanya diri terlalu kotor lantaran banyaknya dosa yang dikerjakan. Akan menuju ke kiri, sungguh mengerikan, karena panas dan kejamnya siksaan di Neraka.

Itulah yang ditangiskan oleh waliyullah Imam Abu Nawas : “Tuhanku, aku ini tidak patut menghuni Surga. Tetapi aku tidak tahan terhadap Neraka.”

Oleh sebab itu ruhani mengambil keputusan paling bijak. Ia tidak terpikat untuk melangkah kekanan, menyongsong kenikmatan surgawi. Ia juga tidak berkeringat dingin menuju kekiri, dan tidak gemetar oleh keganasan neraka. Ia langsung menembus ke depan, mengoyak tabir demi tabir, lalu bersujud di haribaan Allah SWT.

Kepada sang maha pencipta, ruhani mengadu, “Tuhanku. Aku tidak menginginkan surgaMu. Aku tidak ngeri kepada nerakaMu. Aku bersujud dihadapanMu bukan mengharapkan pahala dari sisiMu. aku menggadaikan seluruh hidupku KepadaMu bukan karena takut akan siksa azabMu. Tuhanku aku datang hanya untuk memperoleh ridhaMu. Aku bahkan rela Kau jerumuskan kedalam Jahannam, asalkan Engkau tetap ridha kepadaku.”

Maka bergaunglah firman kudus ditengah keheningan yang luas membentang. Firman Kudus itu berbunyi :

“Wahai jiwa-jiwa yang tenteram. Kembalilah kepada tuhanmu dalam keadaan suka cita dan mendapat ridhaNya. Masuklah kamu menjadi hambaKu dan masuklah kamu kedalam surgaKu.” (Al-Fajr:28)

Pada saat itulah ruhani lantas kembali kepada jasmaninya untuk meniti kehidupan maya ini dengan kedamaian hakiki.(Sumber Buku “Rumah tuhan selalu terbuka” Arman Arroisi)

Tasawuf

Menuju manusia sejati.

46jamaah
Mengapa Tuhan hanya melihat hati manusia, dan tidak kepada jasmani serta bentuknya? Pertanyaan ini tercuat ketika para sahabat mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasmani kalian dan bentuk kalian tetapi Allah memandang kepada hati kalian.”

Hadits tersebut mengungkapkan tanda tanya yang membimbangkan perasaan mereka. Akan tetapi tanda tanya itu takkan berkepanjangan apabila para sahabat mau mengerti bahwa jasmani dan bentuk hanyalah wadah kasar, yang ulahnya diwarnai dan ditentukan oleh getaran hati nurani.

Kita pun seharusnya tidak perlu bertanya lagi mengapa para sufi menumpukan perhatian mereka pada pembinaan hati nurani. Mengapa amal perbuatan seolah disepelekan dan kiprah ulah mereka lebih banyak terpusat kepada pendalaman batin dan penghayatan jiwa. Tidak lain karena dibalik dada itulah naluri berkembang menjadi bisikan kebaikan ataukah dorongan kejahatan. Sikap batin itulah yang secara swakarya mengendalikan seluruh kehidupan ragawi dari mula pertama manusia mengenal mayapada hingga detik-detik menjelang akhir hayatnya, dari perkara yang paling kecil sampai urusan yang paling besar.

Naluri adalah fitrah. Naluri merupakan kekuatan gaib dalam diri setiap manusia. Ia bisa berubah menjadi daya pembinasa, dan ia dapat naik derajatnya menjadi penggerak keluhuran yang melahirkan budi pekerti terpuji untuk itulah Tuhan menurunkan perintah-perintah dan larangan-larangan. Agar naluri tertundukkan oleh keteguhan iman.

Pantas Allah menegaskan, “Celakalah para mushallin (orang-orang yang mengerjakan shalat).” Kenapa? apa sebabnya orang-orang yang sudah berpredikat mushallin itu diancam celaka oleh tuhan ? Jawabannya terdapat pada ayat berikutnya. “Yaitu mereka yang melalaikan makna sholatnya.” (Surah Al-Maun). Sedangkan makna shalat antara lain menunjuk kepada tujuan utama, yakni mencegah pelakunya dari tindak keburukan.

“Dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu menghalangi kejelekan dan kemungkaran.” (Al-Ankabut:45)

Hakekatnya, semenjak dilahirkan kedunia, manusia telah dilengkapi Tuhan dengan piranti untuk menangkap gejala-gejala alam dan mengatasinya, agar pergulatan manusia menghadapi alam fana menghasilkan kesejahteraan dan keselamatan abadi hingga ke alam kelanggengan.

Itulah yang kemudian menyebabkan manusia memiliki watak dasar yang tidak pernah dijumpai pada makhluk lainnya.

Pertama, kemampuan berpikir. Ialah watak dasar untuk berusaha memahami lalu menyelaraskan diri dengan dunia sekitar lewat kesanggupannya menggunakan pikiran, pengetahuan dan pengalaman. Dalam kelebihan ini manusia akan senantiasa menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian-pengertian berikutnya, lantas mengambil kesimpulan tertentu guna melanjutkan perjalanan keberadaannya dimuka bumi. Apakah kesimpulan itu benar atau tidak benar adalah tergantung kepada beberapa faktor disekelilinginya. Celakalah manusia jika ia meyakini bahwa kesimpulannya mutlak benar atau mutlak tidak benar.

Oh, andaikata manusia memiliki kemutlakan dalam menetapkan benar atau tidak benar, alangkah akan goncangnya keseimbangan alam ini. Dengan kemutlakan itu bisa terjadi manusia saling menghancurkan atas nama kebenaran diri sendiri dan ketidak benaran orang lain. Atau kebalikannya. Kehidupan berubah adem dan lembab. Takkan ada lagi upaya-upaya mencari kebenaran, sebab kebenaran mutlak sudah tersedia matang, tinggal memetik tanpa perlu menggunakan akal pikiran.

Karena itu tuhan menurunkan ukuran untuk menimbang, apakah kesimpulan itu sudah mencapai, paling tidak mendekati kebenaran, ataukah bertentangan dengan kebenaran. Ukuran itu merupakan nilai-nilai dasar yang takkan mematikan kekuatan berpikir pada diri manusia. Ukuran itu adalah firman langsung dari Tuhan yaitu Al-Quran dan firman tak langsung atau bisikan wahyu kepada Nabi yaitu As-Sunnah.

“Dan tidaklah Muhammad itu berbicara dari hawa nafsunya, melainkan wahyu yang diturunkan kepadanya.”(An-Najm:3)

Yang kedua, kemampuan berperasaan. Watak dasar ini mempunyai ciri untuk selalu berusaha memahami dan menyesuaikan diri kepada alam luarnya dengan memanfaatkan perasaan. Ia mempunyai ukuran-ukuran tertentu untuk menghasilkan penilaian baik dan tidak baik, indah dan tidak indah, suka dan tidak suka, atau enak dan tidak enak. Dengan ukuran-ukuran itu ia lalu mengambil kesimpulan terakhir tentang manakah yang paling baik, paling indah, paling disukai, atau paling enak dibandingkan lain-lainnya.

Ketiga, kemampuan menerima ilham. ini adalah kepekaan rasa manusia lantaran kehalusan ruhaniahnya yang berakar dari ruh Tuhan. Hingga secara tidak sadar manusia menyimpan kekuatan tersembunyi yang dapat memberikan penglihatan batin atau bashirah, selain penglihatan dzahir yang disebut bashar. Kekuatan ini berada diluar kendali pikiran dan perasaan, datangnya pun tidak dapat diperhitungkan sebelumnya.

Keempat, kepekaan indrawi. Adalah watak dasar yang menangkap gejala-gejala dan memasoknya kedalam alam sadar sebagaimana adanya, tanpa kesimpulan berpikir ataupun bunga-bunga perasaan. Berangkat dari kepekaan indrawi, manusia mampu melihat dan memantau secara rinci dengan mengabaikan yang bersifat keseluruhan.

Seharusnya keempat kemampuan yang merupakan watak dasar itu bergabung dengan serasi didalam diri manusia.Namun acapkali manusia cenderung untuk memberat kepada salah satu saja, sementara kemampuan lainnya seolah tersingkirkan. Maka lahirlah empat macam manusia yang apabila ditelaah, mempunyai perbedaan menonjol dalam cara dan sikap kehidupannya.

Terdapat manusia yang hanya mengutamakan pikiran semata-mata tanpa mau menimbang-menimbang perasaan. Apabila menurut pikirannya sudah benar maka akan diwujudkannya dalam tindakan dengan tidak memperdulikannya perasaan. Pikirannya mengatakan, untuk menentukan apakah seseorang itu mati wajar ataukah telah diracun, jenasah harus dibongkar dan diaduk-aduk. Keputusan hasil pikiran ini segera dilaksanakan. Segala perasaan disingkirkannya.

Ada pula manusia yang lebih mempanglimakan perasaan sehingga pertimbangan pikiran betapa pun baik dan tepatnya akan dibuang jauh-jauh. Perasaannya membisikkan ketakutan naik kapal terbang. Maka bagaimana pun jauhnya jarak yang harus ditempuh ia memilih berjalan kaki.

Juga bisa dijumpai macam manusia yang selalu mengandalkan ilham. Ia hanya mau berbuat sesuatu kalau sudah memperoleh penglihatan batin atau wangsit. Akibatnya, kekuatan ilham yang selayaknya melahirkan cahaya terang bahkan berubah menjadi penghalang kemajuan dan daya gerak.

Lalu ada lagi manusia yang hanya mempercayai tangkapan panca inderanya. Segala pertimbangan lain akan disingkirkan sebelum panca indranya menangkap sesuatu dengan mata kepala sendiri. Sikap ini apabila dibiarkan bakal membuat manusia kehilangan kemanusiawiannya yang selalu memandang kedepan. Ia bakal tak ubahnya bagaikan binatang belaka.

Untuk itu, melalui upaya-upaya rohani yang dilandasi cahaya Tuhan, para pendamba kebenaran senantiasa berusaha meletakkan kemampuan watak dasar itu dibawah bimbingan agama yang diridhai. Karenanya, apabila para sufi banyak menjenguk kedalam dirinya sendiri lewat dzikir dan suluk, pada hakekatnya hanyalah merupakan suatu sarana agar dapat mengenali bimbingan Tuhan secara benar. Sebab hanya dengan demikian, manusia akan bisa menggabungkan segala kemampuan watak dasarnya menuju sikap hidup yang sempurna, yang membuhulkan keakraban dengan Tuhan dan kemesraan dengan semua makhluk-Nya.
(Sumber Buku “Rumah tuhan selalu terbuka” Arman Arroisi)

Tasawuf

Hari sebening telaga Zamzam

89telagasunyiSeakan batu-batu disepanjang jalan menuju tanah lapang itu ikut bersuka cita ketika pagi pertama bulan Syawal telah tiba. Dari cerobong asap dirumah-rumah penduduk Madinah mengepul suasana hari raya yang diberkati. Hari indah itu adalah milik semua. Tidak ada tangis yang boleh bergema kecuali air mata bahagia. Sebab semua umat Islam telah berhasil memenangkan perang dahsyat melawan hawa nafsu, dan sudah kembali kepada fitrah kesuciannya.

Rasulullah SAW mengenakan pakaiannya yang paling bersih dan bergegas keluar dari ambang pintu. Ditatapnya kaki langit yang membiru. Cuma awan tipis yang berarak. Angin sejuk bertiup mendesau, membuyarkan sisa-sisa musim panas yang teriknya telah diusir ke kawasan tanpa penghuni, Juhfah.

Sayup-sayup kedengaran suara takbir berkumandang :

“Allah maha besar, Allah maha besar, Tiada tuhan melainkan Dia, Sang Maha Besar, Allah maha Besar. Bagi-Nya segala puji tercurah.”

Rasulullah tersenyum ceria. Warga Madinah tampak riang gembira dengan martabat kesucian yang mereka capai sesudah sebulan berpuasa melawan godaan syahwat kekotoran. Apalagi Rasulullah juga menjanjikan kebebasan dari jilatan api neraka, sebagaimana terungkap dalam sabdanya :

“Barang siapa berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan penuh iman dan semata-mata ikhlas karena Allah, diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang.”

Shufah, Shufah, bening, bening, hanya perasaan itulah yang sedang mereka nikmati. Bening bagaikan telaga Zamzam. Bening bagaikan langit tempat doa membubung menuju Arasy tuhan. Suci, suci seperti yang kelak didambakan oleh mereka yang menempuh jalan tasawuf untuk menggapai ridha Allah. Atau bersih laksana seorang bayi yang baru keluar dari gerbang rahim ibundanya. demikianlah yang dikemukakan Rasululullah kepada para sahabatnya, tentang betapa agungnya nilai ibadah selama bulan Ramadhan dalam mencuci habis semua dosa dan kesalahan.

Rasulullah melangkah sakinah. Kakinya menjejak tanah Madinah dengan tegap. Dadanya lapang seperti juga dirasakan oleh anak-anak kecil yang tengah berlari-larian itu. Ia memandangi mereka dengan terharu. Dari pakaian bagus dan wajah polos yang berbinar-binar, nyata sekali betapa anak-anak itu ikut menghayati makna hari raya yang penuh rahmat lewat cara mereka sendiri.

Akan tetapi di sebuah pengkolan jalan, hati Rasululah terguncang. bukan oleh keadaan ditanah lapang tempat shalat Idul Fitri akan dilangsungkan. Juga bukan oleh para sahabat yang sudah menunggu disana dengan hati berdebar-debar. Tidak. Ia tersentak melihat sesosok anak kecil sedang menangis tersedu-sedu menghadap ke tembok tua yang hampir runtuh, membelakangi jalanan yang semarak itu.

Rasulullah mengucapkan istighfar sambil memegangi dadanya. Ia sedih dan menyesal. Ternyata diantara umatnya yang sedang bersuka ria. masih ada seorang anak kecil yang tengah dilanda kesusahan. Pakaiannya compang-camping. Badannya penuh daki kehitaman. Anak siapakah dia gerangan ?

Nabi pelan-pelan mendekati anak itu. Diawasinya dengan iba tanpa menyebabkan anak itu sadar bahwa ada seorang pemimpin agung yang amat berduka melihat nasibnya. Dengan suara kebapakan Rasulullah bertanya,

“Hai anak kecil. Mengapa engkau menangis sengsara ketika yang lain-lain tengah bergembira karena Hari Raya telah datang ? dan mengapa engkau menyudut sendirian, tidak ikut bermain-main dengan mereka?”

Anak kecil itu tak acuh. Ia tetap menghadap ke tembok dan membelakangi Rasulullah yang berdiri didekatnya. Tanpa menoleh ia menjawab sambil terus terisak-isak.

“Bagaimana saya tidak menangis? Mereka berpakaian bagus-bagus, baju saya koyak-koyak. Mereka kenyang, saya lapar. Mereka punya uang, saya tidak. Ketika saya mendekati mereka, diusirnya saya karena kotor dan berdaki.”

Nabi kian terperanyak. Kepedihan hatinya menanjak hingga keujung lidah. Dengan berat ia bertanya lagi :

“Mengapa engkau tidak berpakaian bagus, anak kecil? Mengapa engkau tidak makan dulu dan tidak minta uang kepada ayahmu?”

Anak kecil itu masih belum menengok. Ia menjawab seraya menelungkupkan wajahnya diantara kedua lutut :

“Dulu, tiap hari raya pakaian saya selalu bagus-bagus. Dulu, saya tidak pernah lapar dan mempunyai uang banyak. Dulu, pada waktu ayah saya masih ada.

Rasulullah bergetar. Dengan hati-hati ia bertanya,

“Ayahmu kemana anak kecil?”

Setengah memekik anak kecil itu menyahut : “Ayah saya… sudah meninggal dunia..”

“Inna Lillah…” Nabi menggumam sembari air mata kudusnya menitik satu-satu, jatuh dipasir bagaikan pecahan permata kecil-kecil. Ia terdiam lama seakan kedua bibirnya terkatup rapat. Sesudah tergigit-gigit barulah Nabi dapat mengeluarkan suara. Pelan-pelan ia berkata,

“Anak kecil. Senangkah engkau seandainya aku jadi ayahmu, Fathimah jadi kakakmu, Ali bin Abi Thalib jadi abangmu, sedangkan Hasan dan Husain jadi kerabatmu?”

Anak kecil itu terbelalak dalam sedu sedannya. Ia berpikir, menduga-duga, lalu membalikkan badannya dengan harap-harap cemas. Siapakah lelaki yang suaranya lembut ini ? Siapakah dia? jangan-jangan…?

Dipandanginya sepasang kaki yang kukuh itu. dilihatinya jubahnya yang bersih namun sederhana itu. Diawasinya wajah yang halus dan sejuk itu. Ditatapnya sepasang bibir yang tipis dan tersenyum itu. Dinikmatinya alis yang saling bertaut itu. Diperhatikannya mata yang memandang cerah itu. Setelah yakin bahwa lelaki yang gagah itu adalah Rasulullah, dengan serta merta ia berdiri lantas memeluk lututnya seraya berseru:

“Tentu saja saya suka engkau menjadi ayahku, Wahai Rasulullah.”
Nabi pun cepat berjongkok lalu menggendong anak kecil itu dan dibawanya pulang. Dibiarkannya para sahabat menanti kehadirannya ditanah lapang untuk menjalankan shalat Idul Fitri bersama. Ia memandikan anak kecil itu. Memasangkan seperangkat pakaian baru yang tersedia dirumahnya. Menyuapinya dengan makanan yang serba lezat. Memberinya uang yang cukup. Kemudian menyuruh anak kecil itu bermain-main dengan teman-teman sebayanya. Sesudah ia yakin anak kecil itu bergembira ria bersama mereka, barulah ia berangkat kembali untuk melaksanakan ibadah hari raya yang bening itu, sejernih hatinya yang kini berbunga-bunga.

Anak kecil itu sudah bisa tertawa seperti anak-anak lainnya. sampai mereka keheranan dan berkata :

“Hai kawan. Engkau ini aneh sekali. Tadi engkau menangis sedih, sekarang engkau tertawa-tawa. ada apa?”

Anak kecil itu membusungkan dada ketika menjawab :

“Tadi aku menangis karena aku lapar. Tadi aku menangis kerena aku tidak punya uang. Tadi aku menangis karena pakaianku rombeng. Sekarang aku tertawa karena sudah kenyang, sudah punya uang dan pakaianku sama bagus dengan kalian. Lebih-lebih, kalau tadi aku tidak punya ayah, kini aku sudah punya ayah.”

Teman-temannya terkejut dan keheranan. Serempak mereka bertanya : “Dapat ayah dari mana kamu?”

Anak kecil itu dengan bangga menyahut, “Karena ayahku sendiri sudah meninggal dunia, maka Rasulullah mengangkat aku sebagai anaknya. Rasulullah adalah ayahku sekarang.”

Anak-anak yang lain pun menyesal dan mengucap, “Ya… coba ayah kita juga meninggal, kita pun bakal punya ayah Rasulullah.”

Begitulah, sebuah putus asa telah berubah menjadi harapan dan masa depan yang benderang. Karena selaku utusan Tuhan, Rasulullah lebih mendahulukan kepentingan umatnya daripada beribadah vertikal kepada Allah, selama ibadah itu masih bisa ditunda lantaran tidak berkaitan dengan masalah waktu.

Jalan inilah yang sebenarnya juga ditempuh oleh para shufi ketika mereka menjabarkan tasawuf melalui kesederhanaan hidup yang disebut Zuhud. mereka memalingkan diri dari dunia untuk mendapatkan kenikmatan dunia tanpa mengganggu hak orang lain. Mereka meninggalkan kekayaan untuk memperoleh kekayaan yang hakiki, yakni kebeningan hati. Sebab mereka yakin, kenikmatan dunia justru bermukim dalam kenikmatan hati. Sebagaimana terungkap dalam salah satu ucapan para Shufi: "Sesungguhnya matahari siang pasti terbenam apabila malam datang. Sedangkan matahari hati takkan pernah menghilang.

Hari raya bagi para penempuh jalan kebenaran bukanlah bersuka cita dengan harta berlimpah, melainkan pada langkah hidup berikutnya yang kian terang menuju ridha Tuhan.

Bukanlah hari raya itu bagi orang yang bisa menikmati serba baru. Hari raya adalah bagi orang yang ketaatannya makin meningkat.
(Sumber Buku “Rumah tuhan selalu terbuka” Arman Arroisi)