Tasawuf

Menjumpai bintang-bintang

31bintangSebetulnya tidak perlu terjadi persilangan jalan antara tasawuf dan fiqih, sebagaimana tidak mungkin terpisahkan antara ruh dan jasad, kecuali apabila hidup telah berakhir. Namun karena perilaku dan lisan kesufian acap kali tidak dengan cepat terselami maknanya oleh sadapan indrawi, maka diperlukan saling memahami tabiat masing-masing.

Seorang sufi pernah berkata, “Jika engkau menginginkan surga, belajarlah agama kepada para ahli fiqh. Tetapi bila engkau menghendaki Tuhan yang memiliki surga, datanglah kepada para sufi. Sebab untuk mendapatkan surga, jalannya adalah fiqh atau syariat. Sedangkan pintu menuju tuhan tidak ada lain kecuali tasawuf.”

Perkataan seorang tokoh sufi Abu Yazid Al-Busthami mungkin lebih terasa menyakitkan lagi, ketika ia ditanya, mengapa mendengarkan fatwa-fatwanya tidak membuat orang bosan, sedangkan terhadap uraian ahli fiqh justru sangat menjemukan.

Abu Yazid menjawab, “Karena sasaran ahli fiqh adalah otak manusia sementara pengajaran ahli tasawuf tertuju kedalam jiwa.

Sebetulnya jawaban tersebut bukan kecongkakan melebih tinggikan kaum sufi. Melainkan sekadar menerangkan perbedaan antara lingkup ilmu fiqh dan ilmu tasawuf yang tidak sama.Oleh sebab itu masyarakat tidak terperangah ketika seorang ahli fiqh Al ‘Iz bin Abdissalam menuduh Ibnu Arabi, tokoh tasawuf, sebagai
seorang zindiq, penyeleweng agama. Salah seorang muridnya menegur, “Adakah
seorang quthub, pemuka para wali, dizaman ini?”

Jawaban Al ‘Iz justru lebih mengagetkan. “Dia adalah Ibnu Arabi,” ucapannya tegas.

“Tapi tuan telah mencacinya?”dengus sang murid.

Karena aku harus menjaga kemurnian syariat dikalangan kaum awam.”Sahut Al ‘Iz tanpa ragu-ragu.

Murid-muridnya baru memahami keseolahan yang rancu ini apabila mereka secara sepintas lalu mendengarkan ucapan Ibnu Arabi tentang kiblat sembahyang yang mengarah ke Ka’bah di Makkah.

Dalam kitabnya Al-Futuhat, Ibnu Arabi menulis, “Umat Islam telah sepakat menghadapkan wajahnya ke Kiblat di Ka’bah sebagai salah satu syarat sahnya shalat. Andaikata keputusan ijma’ para ahli fiqh itu belum disetujui serempak, maka aku akan mengatakan bahwa hal itu bukan merupakan syarat, karena Allah SWT melalui ayat 115 surah Al-Baqarah telah berfirman :

“Maka kemanapun engkau memalingkan muka, disana engkau akan
berhadapan dengan Allah.”

“Ayat ini merupakan dasar hukum yang diturunkan di Makkah, dan tidak pernah dihapus keabsahan perintahnya,” demikian kilah Ibnu Arabi dalam kitabnya yang menggegerkan itu.

Jadi mengapa Ibnu Arabi berani berkata begitu? Apakah ia menentang kesahan Ka’bah sebagai kiblat dalam sembahyang? Padahal ketetapan ini sudah merupakan ketentuan syariat? Apakah shalat boleh dilakukan dengan menghadap kemana saja, meskipun tanpa aral?

Tidak. Pada hemat sejumlah besar kaum bestari, tidaklah sesesat itu pandangan Ibnu Arabi. Ia hanya sedang mengemukakan alangkah pentingnya peranan hati dan niat ketimbang hanya gerakan jasmani dan formalitas. Kalaupun seorang muslim menghadap ke Ka’bah namun tanpa hati dan niat menghadap kepada Allah, shalatnya hanya sah berdasarkan syariat, tetapi hakekatnya ia cuma menggerakkan tubuh belaka, dan tidak sedang beribadah ke hadirat-Nya. Hal itu bahkan memperjelas betapa tasawuf Ibnu Arabi begitu berpengaruh dan memberi jiwa terhadap fiqhnya.

Perjalanan kesufian Ibnu Arabi memang unik. Tidak hanya karena ia mendalami filsafat, merangkap sebagai ahli hakikat dan makrifat yang mampu mendirikan dinding akidah dalam dunia tasawuf, melainkan karena riwayat kelahiran mengundang tanda tanya dan keingintahuan yang mendalam.

Konon sesudah bertahun-tahun orang tuanya tidak dikurniai seorang anakpun, mereka lalu mendatangi Syech Abdul Qadir Al-Jailani, seorang wali agung yang digelari Muhyiddin (Penghidup agama), ketika sang wali sudah berusia lanjut menjelang hari-hari terakhir hidupnya. Syech Abdul Qadir Al-Jailani lantas menadahkan tangan kepada Allah, memohon agar keluarga itu dikabulkan keinginannya, dengan pesan agar bila kelak doanya terkabul dan lahirlah seorang anak laki-laki, hendaknya diberi nama julukan Muhyiddin pula.

Maka pada tanggal 17 Ramadhan tahun 506 Hijriyah, bayi yang diharapkan itu pun muncul dengan selamat di kota Mursia (Marceille) dalam wilayah Andalusia (Spanyol). Ia diberi nama Muhyiddin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah Alhatimi. Ditengah keindahan alam dan kesegaran udara Andalusia, si kecil itu tumbuh menjadi dewasa dalam masa keemasan ilmu pengetahuan dan agama. Ia banyak belajar kepada para ulama besar di segala bidang ilmu, baik ilmu-ilmu lahir maupun ilmu-ilmu batin. Ia menguasai ilmu Al-quran dan Tafsir. Ia pun mendalami ilmu hadist, fiqh dan semua cabangnya. Ia mengenal bahasa Arab hingga kelubuk-lubuknya. Dan ia hidup sebagai manusia biasa dengan segenap kekuatan dan kelemahannya.

Ibnu Arabi pernah terpukau oleh kenikmatan dunia. Ia pernah terpikat oleh kecantikan wanita. Ia pernah hanyut oleh keindahan alam. Sampai sempat melahirkan sajak-sajak asmara dan puisi-puisi pemujaan yang indah-indah mengenai kehiduapan jasmaniah yang semarak.

Di Hijaz ia jatuh cinta kepada putri gurunya sendiri. Amboi cantiknya perempuan itu hingga untuk sementara waktu mampu menggelisahkan jiwanya. Ia mengaku terus terang mengenai riwayat kasmarannya itu sebagaimana tertuang dalam salah satu puisinya. “Oh, betapa terpikat hatiku olehnya. Pikiran dan jiwaku seakan terbelenggu. Semua nama yang kusebut seolah-olah tertuju kepadanya. Seluruh negeri yang kudatangi seolah-olah kampungnya belaka yang kumasuki.”

Namun setapak demi setapak ia mulai meninggalkan bumi. Karena ternyata keindahan asama sama fatamorgananya dengan keindahan dunia. Ia mulai menatap kelangit, tanpa mengapungkan dirinya di awan gemawan. Sebab kakinya tetap berpijak dibumi, Cuma jangkauan angan-angannya yang menyibak cakrawala. Supaya apabila nanti jasadnya terkubur di balik himpitan tanah, pikiran-pikirannya
tetap mengalir bersama mega yang berarak sepanjang masa, mencurahkan hujan
kesegaran dan kerinduan kepada para pendamba kebersamaan dengan Tuhan.

“Pada malam yang putih itu aku terbang ke langit dan menjumpai bintang-bitang. Kukawini mereka satu persatu. Dan aku memperoleh kelezatan rohani sepanjang bermesra-mesra dengan mereka.”

Demikian Ibnu Arabi menulis kebahagiaanya manakala ia menjelajahi alam kebeningan yang tidak mengenal ujung dan tepi. Dari sana ia berkata, “Sungguh
telah dibukakan ilmu yang tinggi bagiku, pengetahuan yang mendalam tentang
rahasia yang tersembunyi selama ini, dan hikmah yang murni dalam kilauan bulan
yang ditaburi bintang gemintang.” (Sumber Buku “Rumah tuhan selalu
terbuka” Arman Arroisi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s